
Muaro Jambi, 24 Agustus 2026 - Rangkaian tausiyah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di MAN 3 Muaro Jambi pada kementerian agama Muaro Jambi berlangsung penuh interaksi dan motivasi. Dalam penyampaiannya, penceramah mengajak peserta didik untuk benar-benar menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan, bukan hanya mengenang sejarah kelahiran beliau.
Penceramah ustadz Muhammad Yusuf, S.Ag mengajak siswa membaca dan memahami QS. Al-Ahzab ayat 21:
"Laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanatun liman kana yarjullaha wal-yaumal akhir wa dzakarallaha katsiran."
Ayat tersebut menjadi landasan penting bahwa Rasulullah SAW adalah uswatun hasanah, yaitu teladan terbaik bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kehidupan akhirat.
Menurut penceramah, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus dibuktikan dengan memahami ajaran beliau dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan Maulid Nabi tidak cukup hanya dengan mengetahui kapan Nabi Muhammad SAW lahir atau bagaimana perjalanan hidup beliau, tetapi yang lebih penting adalah mengambil pelajaran dan mengamalkan keteladanan Rasulullah.
Dalam tausiyahnya, penceramah juga mengutip ungkapan Arab:
"Laisa al-fata man yaqulu kana abi, wa lakinna al-fata man yaqulu ha ana."
Ungkapan tersebut disampaikan sebagai motivasi agar generasi muda tidak hanya membanggakan orang tua atau latar belakang keluarganya, tetapi mampu menunjukkan jati diri, kemampuan, dan kemandiriannya.
Belajar Mandiri dan Tidak Minder
Penceramah kemudian menceritakan perjalanan hidupnya sebagai contoh bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang. Ia mengisahkan bagaimana dirinya pernah menjalani berbagai pekerjaan untuk membiayai pendidikan, mulai dari pekerjaan bangunan, rumah makan, percetakan, menjadi sopir, hingga menjadi pengemudi ojek.
Pengalaman tersebut menjadi pesan penting bagi para siswa bahwa kerja keras dan kemandirian harus dibangun sejak dini.
"Jangan hidup malu karena kebaikan. Malulah ketika melakukan sesuatu yang tidak baik," pesan penceramah kepada para siswa.
Ia mengajak peserta didik untuk terus mengasah kemampuan, mengisi pikiran dengan ilmu, dan mempersiapkan diri agar kelak mampu menjalani pendidikan serta kehidupan secara mandiri.
Meneladani Kejujuran Rasulullah SAW
Salah satu akhlak Rasulullah SAW yang ditekankan dalam tausiyah adalah kejujuran. Penceramah mengingatkan siswa agar membiasakan diri berkata dan bertindak jujur, baik kepada orang tua, guru, maupun kepada siapa pun.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa seseorang menuju surga.
Karena itu, kecerdasan akademik harus berjalan seiring dengan akhlak. Siswa boleh memiliki kemampuan dalam matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, teknologi, maupun bidang lainnya, tetapi semua kemampuan tersebut harus digunakan untuk kebaikan dan tidak menjadi alasan untuk berbuat tidak jujur.
Memperkuat Iman dan Tidak Takut Selain kepada Allah
Penceramah juga mengingatkan peserta didik agar memperkuat iman sejak berada di bangku madrasah. Menurutnya, kehidupan masa depan akan menghadirkan berbagai tantangan, termasuk godaan jabatan, harta, popularitas, dan berbagai kenikmatan dunia.
Karena itu, ilmu dan iman harus dibangun secara bersamaan.
Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bagi seorang muslim adalah ketika dirinya memiliki keyakinan kepada Allah SWT dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.
"Jangan sampai karena mengejar jabatan, harta, rumah, atau fasilitas, kita mengorbankan akidah dan iman," pesannya.
Penceramah juga menegaskan bahwa rezeki merupakan ketentuan Allah SWT. Manusia tetap wajib bekerja keras, tetapi harus senantiasa menjaga kejujuran dan keyakinan kepada Allah.
Maulid sebagai Momentum Membentuk Karakter
Melalui tausiyah tersebut, peserta didik MAN 3 Muaro Jambi diajak memahami bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kegiatan tahunan. Maulid menjadi momentum untuk menanamkan nilai kejujuran, kemandirian, keberanian, kerja keras, cinta kepada orang tua, menghormati guru, serta keteguhan iman.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat madrasah dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak mulia.
Dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah, para siswa diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi yang berilmu, mandiri, jujur, berakhlak, memiliki iman yang kuat, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
(Mus)
|
21x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Muaro Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...